Jumat, 21 November 2014

DODOLAN BUKAN DHA DOLAN




Dodolan Bukan Dha Dolan



Abu Nadhif



Wakil Pemimpin Redaksi 



 “Kalian ini memang sukanya nyinyir. Belum apa-apa sudah dikritik. Biarkan dulu Jokowi bekerja, jangan apa-apa serba direcoki. Move on lah,” suara Noyo meninggi membuat beberapa pengunjung Angkringan Pakdhe Harjo kaget.



“Jangan keras-keras Yo, kasihan pelangganku yang tua-tua padha kaget. Dikira Bung Tomo lagi pidato,” Pakdhe Harjo mengingatkan.
Selaku owner angkringan, Pakdhe Harjo menjaga betul kepuasan pelanggannya. Jangankan suara keras, pengamen saja ia larang masuk kompleks agar tidak mengganggu konsumen. Sebagai gantinya ia menyediakan kotak kecil berisi recehan di pintu masuk kompleks angkringan. Para pengamen tinggal mengambil sendiri asal tak lebih dari Rp500.
“Bukan nyinyir tapi kritis. Coba bayangkan, masak ke luar negeri kok anaknya juga diajak. Apa hubungannya dengan tugas Jokowi sebagai Presiden? Apa ini bukan pemborosan uang negara?” sergah Suto tak mau kalah.
Obrolan Noyo dan Suto, rekannya yang penambal ban, memang berlangsut sengit. Meski agak kalah dalam berlogika, Suto mampu mengimbangi Noyo. Dua sahabat angkringan itu memang kerap berdebat tentang isu kebangsaan. Tidak jarang mereka bersitegang jika tidak ada titik temu dalam debat. Jika sudah begitu, Pakdhe Harjo yang menjadi sesepuh biasanya tampil sebagai penengah.
“Kok baru sekarang diributkan? Presiden-presiden yang dulu juga sering mengajak keluarga ketika bepergian ke luar negeri. Zaman Orde Baru Pak Harto malah mengajak cucu, apa hubungannya coba? Juga tidak ada yang protes tuh saat Pak SBY beberapa kali mengajak Edhie Baskoro Yudhoyono. Zannuba Arifah Chafsoh malah tidak pernah absen ikut Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid) di setiap lawatan. Kok tidak ada yang protes? Tanya kenapa?” suara Noyo tetap tinggi. Meski lebih ingin menekankan kedalaman argumentasi, emosinya telanjur tersulut.
Pakdhe Harjo berusaha menengahi. Ia tidak ingin suhu meninggi gara-gara dua pelanggan tetapnya itu berbeda pendapat tentang lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Tiongkok dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC, beberapa hari lalu. Bukan karena takut Suto dan Noyo bakal berantem. Pakdhe Harjo yakin dua sahabat itu seperti dalam perdebatan-perdebatan sebelumnya. Sepanas apapun perdebatan mereka, Suto-Noyo tidak pernah sampai melempar botol minuman, dorong-dorongan atau membalikkan meja seperti yang kerap terjadi di sidang DPR. Pakdhe Harjo hanya khawatir pelanggan lainnya yang takut Suto-Noyo berantem.
“Gini-gini, kita boleh kritis tapi jangan nyinyir. Kritis itu berarti kita aktif, korektif, jadi sifatnya konstruktif. Sementara nyinyir itu apa-apa serba salah. Pokoke kowe salah. Nah, kita tidak boleh yang seperti itu. Biar tidak menjadi debat kusir kita kembalikan ke aturan. Seperti disampaikan Sekretaris Kabinet, tentang Kahiyang yang ikut Jokowi ini tidak ada aturan yang dilanggar. Sebab berdasarkan UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan dan Permen Sekretaris Negara Nomor 8 Tahun 2007 tentang Petunjuk Standar Pelayanan Penyiapan Perjalanan Kunjungan Kerja Presiden dan Wakil Presiden, seorang presiden boleh mengajak keluarga saat bertugas ke luar negeri,” tutur Pakdhe Harjo.
Omongan Pakdhe Harjo terhenti. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, mengguyur Kota Jogja yang sebelumnya panas karena kemarau panjang. Ia berlari mengambil payung ke dalam rumah. Sejenak suasana pun hening sampai kemudian terdengar suara Noyo yang bersaing dengan gemuruh hujan.
“Kita harus memahami psikologi Presiden. Beliau juga manusia yang punya rasa kangen dengan keluarga. Kita saja kalau bepergian jauh kangen dengan keluarga juga ta? Bedanya, Presiden itu kan hampir tidak punya hari libur. Waktu untuk keluarga sangat kurang. Jadi kalau sesekali anaknya ikut juga gakpapa? Lagian, presiden sebelumnya jika ke luar negeri rombongan bisa mencapai 120 orang, ini sudah dirampingkan jadi 60 orang lho?” Walaupun suaranya pelan Noyo merasa menang kali ini karena argumentasinya faktual.
Meski bekerja sebagai penarik becak, Noyo sebenarnya punya kemampuan mumpuni sebagai orator. Suaranya lantang, tinggi tapi jernih. Logika bahasanya juga runtut, tidak meloncat-loncat. Soal wawasan jangan ditanya, tiap hari Noyo nyaris tidak pernah absen membaca Harian Jogja yang disediakan Pakdhe Harjo di angkringan miliknya.
Suto terdiam. Dalam hati ia membenarkan apa yang disampaikan sahabatnya itu. Tapi ia malu menyampaikan pengakuannya. “Yang lebih penting untuk kita kritisi sebenarnya adalah esensi tujuan rombongan Presiden datang ke acara yang juga dihadiri Presiden AS Barack Obama itu,” Pakdhe Harjo yang sudah kembali ke angkringan melanjutkan “kuliah”-nya. 
“Mereka ke sana itu kan sebenarnya bukan dha dolan (piknik) tapi dodolan (berjualan). Indonesia ini kaya raya, gemah ripah loh jinawi. Pertanyaannya, kenapa semuanya serba impor? Daging hasil impor dari Australia, beras impor Thailand, bahkan garam saja impor. Negara kita 2/3-nya lautan kok garam impor dari Australia dan Singapura. Ediiiiaaaan pora?” Kali ini justru suara Pakde Harjo yang meninggi.
Pria paruh baya yang seluruh rambutnya beruban itu rupanya terbawa emosi lantaran kesal dengan kebijakan pemerintah selama ini yang begitu mudah mengimpor barang namun melupakan potensi negeri sendiri. “Jokowi harus bisa menjual potensi dalam negeri. Bukan menjual aset-aset negara atau BUMN. Yang dijual adalah produknya. Kita bangun industri sebanyak-banyaknya di Tanah Air. Lalu hasil dari industri itu kita jual ke negara lain. Kita berdayakan petani, nelayan, dan tenaga-tenaga kreatif lainnya. Kita harus bisa menjadi negara pengekspor beras, garam, daging, minyak dan lain-lain. Kita punya potensi itu, tinggal bagaimana pemimpin-pemimpin kita memberdayakan,” suara datar Pakdhe Harjo mengakhiri perdebatan di angkringan sore itu.
Pakdhe Harjo yang menjadi sesepuh di kawasan itu mengingatkan pentingnya persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Bagaimana negara bisa maju jika masing-masing kelompok selalu mencari celah kesalahan kelompok lain. Harusnya, ketika kompetisi Pilpres sudah selesai siapapun yang menang harus didukung tanpa memandang ia berasal dari kelompok mana.
“Bukannya selalu menjadikan Amerika Serikat sebagai rujukan, tapi perilaku demokrasi di sana diakui masih yang terbaik dari negara lain. Kita harus mencontoh bagaimana Hillary Clinton yang langsung menyatakan dukungannya kepada Barack Obama saat ia dikalahkan dalam pemilu pendahuluan Partai Demokrat. Tiru juga dua calon presiden dari Partai Republik, John McCain dan Mitt Romney yang begitu dinyatakan kalah dalam pemilu langsung berpidato agar pendukungnya mendukung Obama. Sudahlah, ayo dukung pemerintahan Jokowi agar bisa mewujudkan impian rakyat Indonesia, yakni bersanding dengan negara-negara maju.. Jika ia benar ayo kita dukung, kalau dia salah kritiklah secara proporsional. Kita harus memberi contoh perilaku demokrasi yang baik kepada anak cucu kita,” tegas Pakdhe Harjo mengakhiri obrolan politik di angkringan sore itu.






Sepak Bola Bisa Bagus, Asal...



Abu Nadhif


Vonis Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) atas kasus sepak bola gajah antara PSS Sleman dan PSSI Semarang sangat menyengat. Jika tidak ada keajaiban dalam sidang banding nanti, empat pemain PSIS dan tiga pemain PSS harus mencari pekerjaan lain. Sebab, mereka dilarang beraktivitas dalam dunia sepak bola seumur hidup.


Dari PSIS adalah Adi Nugroho (kiper), Komaedi (gelandang), Fadli Manan (striker), dan Saptono (striker). Sedangkan dari PSS masing-masing Riono (kiper), Agus Setiawan (pemain belakang), dan Hermawan Putra Jati (pemain belakang). Bukan hanya mereka, dua pelatih yakni Eko Riyadi (PSIS) dan Herry Kiswanto (PSS);.pengelola tim yakni Wahyu Winarto (Manajer PSIS); Ery Febriyanto (Sekretaris PSS) dan ofisial Rumadi juga dihukum larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup.
Vonis di atas yang terberat. Sementara beberapa pemain lainnya mendapat hukuman larangan bermain antara 1 tahun sampai 10 tahun, termasuk pemain pemain asing yakni Ronald Fagundez (PSIS), Julio Alcorse (PSIS), dan Guy Junior (PSS).
Menariknya, vonis PSSI juga mengenai mereka yang sebenarnya hanya “figuran” dalam tim sepak bola. Pembantu umum PSIS Suyatno dan tukang pijat Aji dihukum larangan beraktivitas selama satu tahun dengan masa percobaan 5 tahun. Kitman PSS Dwi dan tukang pijat Suyono juga mendapat hukuman yang sama. Mereka dianggap bersalah karena tidak melaporkan adanya perbuatan melanggar aturan kepada PSSI.
Vonis berat itu juga menyajikan fakta ironi. Heri Kiswanto adalah salah satu legenda hidup sepak bola Indonesia. Pria Sunda kelahiran Banda Aceh 25 April 1955 ini terkenal sebagai libero andalan timnas Indonesia era 80 hingga 90-an. Dalam kiprahnya di lapangan hijau selama lebih dari 15 tahun, konon ia baru sekali mendapat kartu kuning. Herkis (sapaan Heri Kiswanto) berperan besar mempersembahkan medali emas SEA Games 1987 silam.
Kini, kariernya berakhir dengan sangat tragis. Ia dihukum karena dianggap tidak mencegah terjadinya sepak bola gajah, padahal dirinya adalah pelatih PSS Sleman. Vonis berat ini mengingatkan kita pada kasus Mursyid Effendy. Gara-gara secara sengaja mencetak gol ke gawang sendiri pada Piala Tiger 1998 (kini bernama Piala AFF) ia dihukum FIFA selama seumur hidup dari aktivitas sepak bola. Tapi partner Aji Santosa kala membela Timnas itu beruntung. Ia tetap aktif di sepak bola Indonesia hingga kini karena PSSI hanya menghukumnya satu tahun.
Jauh sebelum itu kita juga diingatkan dengan kasus memalukan yang melibatkan pemain-pemain hebat Tanah Air. Karier Andi Ramang, striker terhebat Indonesia sepanjang masa  yang dinobatkan FIFA sebagai Indonesian who inspired ’50s meridian (Orang Indonesia yang menginspirasi puncak sukses tahun 1950-an) harus berakhir tragis.
Ia terlibat skandal pengaturan skor kala menjamu Yugoslavia dalam laga persahabatan menjelang Asian Games 1965. Bersama beberapa pemain hebat kala itu, seperti Wowo Sunaryo dan Rukma Sudjana, Ramang menerima suap dari mafia judi. Mereka pun dihukum larangan bermain sepak bola seumur hidup kendati akhirnya hukuman itu dianulir karena pertimbangan politik.
Kita tentu tidak ingin terpuruk ke kesalahan yang sama berulang-ulang. Aneka skandal yang mencederai sportivitas sepak bola harus diakhiri. Publik membutuhkan suguhan yang asyik dan bermutu. Bayangkan jika yang diperagakan para pemain di lapangan adalah sepak bola gajah atau sepak bola yang telah dibeli oleh mafia judi, lama-lama masyarakat akan antipati datang ke stadion.
Jika dikelola secara baik sepak bola bisa menjadi industri yang menghidupi banyak kalangan. Mulai pemain, pelatih, pengurus bahkan masyarakat di kota tempat klub tersebut bernaung. Sejak dulu masyarakat kita gila bola. Bahkan gelaran sepak bola antar kampung (tarkam) pun penuh penonton. Ini tentu potensi yang jika digarap secara serius akan menghasilkan uang yang berlimpah.
Syaratnya adalah profesionalitas. Jangan ada permainan. Mafia judi harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari sepak bola. Sebab, mafia judi itu terbukti yang menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada sepak bola. Lihatlah Italia. Sebelum terbongkar skandal pengaturan skor pada 2006 silam atau dikenal sebagai  Calciopoli , sepak bola bak agama baru di negara berpenduduk terbanyak kelima di Eropa itu. Stadion selalu penuh penonton. Tapi sejak skandal tersebut terbongkar stadion menjadi kosong melompong. Hanya stadion milik beberapa tim besar saja yang masih didatangi penonton, itu pun jarang yang sampai penuh.
Pada 2013 lalu, Kepolisian Uni Eropa (Europol) mengungkap sebuah jaringan pengaturan pertandingan yang mencakup beberapa negara di seluruh dunia. Sedikitnya 680 pertandingan mulai level tim nasional hingga klub pada 2008-2011 dicurigai telah diatur oleh mafia yang disebut-sebut berpusat di Singapura tersebut. Sebanyak 380 laga merupakan kompetisi Eropa sementara 300 lainnya teridentifikasi di Afrika, Asia (termasuk Indonesia) dan Amerika Latin. Dari hasil penyelidikan tersebut, bahkan pertandingan di Liga Champions dan Kualifikasi Piala Dunia berhasil disusupi (Antara, 5 April 2013).
Temuan Europol ini mengingatkan kita pada kasus PSMS Medan versus PS Bengkulu pada laga Divisi I musim 2010/2011 silam. Kala itu, PSMS Medan yang hendak melakoni laga tandang melawan PS Bengkulu diperintahkan oleh pengurusnya untuk mengalah. Konon para pengurus telah mendapat suap dari bandar judi dari Malaysia. Saat itu, pelatih dan para pemain menolak. Akibatnya gaji mereka tertunggak bertahun-tahun.
Para pemain berdemo menuntut pelunasan gaji. Beberapa pemain asing bahkan mengemis di jalan demi menyambung hidup. Kasus itu menghiasi berbagai media massa dalam dan luar negeri. Baru pada 2013 perkara itu dibuka kembali. Gaji pemain dilunasi. Tiga pengurus PSMS dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup. Mereka adalah manajer tim Sarwono, CEO PSMS Heru Pramono, dan pengurus klub Saryono. Jika dikaitkan dengan temuan Europol, bisa jadi PSMS Medan saat itu termasuk yang digarap sindikat judi internasional.
Wartawan asal Kanada, Declan Hill, pernah meluncurkan buku kontroversial berjudul The Fix: Soccer and Organize Crime. Dalam bukunya tersebut Hill menyebut mafia judi umumnya adalah manusia yang cerdas dan pandai membaca psikologi manusia. Kemampuan membaca psikologi ini dibutuhkan untuk memahami titik lemah pemain yang akan disuap. Entah soal ekonomi, perempuan atau narkoba. Dan berdasarkan penuturan Hill, bukan klub-klub mapan yang menjadi bidikan utama mafia judi melainkan klub-klub lemah. Karena klub lemah dalam pendanaan, pengaturan skor pun sangat mudah dilakukan. Bisa jadi, kajian Hill ini justru lebih tepat untuk menganalisis klub-klub di Tanah Air.
Dari berbagai kasus memalukan di dunia sepak bola Tanah Air ini kita bisa mengambil banyak pelajaran. Yang utama adalah jika sesuatu dikelola dengan tidak profesional maka hasilnya pasti akan hancur. Demikian pula sepak bola. Sepak bola bisa menjadi industri jika dikelola secara benar dan profesional.
Di Indonesia ini begitu banyak orang kaya. Pertanyaannya, mengapa sangat sedikit yang mau menjadikan sepak bola sebagai bisnis mereka? Masalahnya ada pada kepercayaan. Pengelolaan klub selama ini masih sangat tradisional. Mereka tidak akrab dengan transparansi. Kalaupun ada terkesan asal-asalan. Akibatnya, pengusaha enggan menggelontorkan uang mereka untuk sepak bola.
Padahal jika dikelola secara benar, sepak bola bukan hanya sebagai hiburan tetapi sebagai bisnis yang menggiurkan. Dari tiket saja bisa terkumpul uang hingga Rp500 juta per pertandingan (untuk klub besar seperti Persebaya, Arema dan Persib Bandung). Belum lagi dari merchandise, sponsorship, hak siar dan lain-lain. Ini jelas bukan uang yang sedikit.
Syaratnya, klub sepak bola harus dikelola secara benar dan profesional. Jangan ada permainan mafia, jangan ada dusta di antara kita. PSSI harus bisa menjadi organisasi yang benar-benar mengarahkan sepak bola Indonesia ke jalan yang benar. PSSI harus berani menyingkirkan orang-orang yang selama ini terindikasi masuk dalam jaringan mafia judi internasional. Untuk mewujudkan hal ini, PSSI bisa menggandeng pemerintah, penegak hukum bahkan dengan kepolisian internasional (Interpol). Demi kejayaan sepak bola Tanah Air PSSI harus memulainya sekarang. Jangan tunda-tunda lagi. 


Penulis adalah Wapemred Harian Jogja dan Redaktur Pelaksana Solopos




Minggu, 21 September 2014

KEMAH DI TAWANGMANGU

Sabtu-Minggu (20-21/9/2014) piknik ke Bumi Perkemahan Alamanda, Tawangmangu...menemani Umi yang berkemah dengan 256 muridnya....dingin tapi menyenangkan...hmmmm



RENANG MANAHAN SEP 14

Jumat hari libur...jadi yuk mandi di Manahan....cebuuuuuur...






Kamis, 11 September 2014

BERKAH SALAT DHUHA

Bismillahirahmanirrahim...
Semoga tulisan ini bukan bentuk riya' melainkan ikhtiar untuk berbagi motivasi kepada pembaca tentang keutamaan ibadah Salat Dhuha. Sebagaimana sering disampaikan para ustaz (utamanya Ustaz Yusuf Mansur yang paling getol), Dhuha membuat hidup kita kian lapang, terjauhkan dari kesulitan-kesulitan, memudahkan mengalirnya rezeki dan lain sebagainya.
Saya ada sedikit pengalaman tentang ini. Bismillah, semoga Allah mengampuni dan menjauhkan saya dari riya'. Murni ini sekedar berbagi motivasi beribadah.
Ceritanya, Selasa (9/9/2014), saya kembali mendapat teror telepon dari debt collector Bank Mega. Seperti hari-hari dan bulan-bulan sebelumnya, pria itu menelepon dan mengabarkan bahwa saya masih ada tunggakan tagihan di kartu kredit senilai Rp470.000. Tunggakan itu harus dibayar, jika tidak urusannya bisa repot. Itu katanya.
Berdiam diri ternyata membuat saya justru tidak tenang. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk menyelesaikan urusan ini. Wong kartu sudah ditutup sejak 2011 silam kok masih ada tagihan, gimana ceritanya. Bismillah, berangkat!!
Pukul 08.00 WIB saya berangkat dari rumah di Colomadu pakai APV tercinta (wait...inventaris kantor lho) ke Bank Mega Palur, sebagaimana diminta sang DC. Sebelumnya saya mampir masjid dan Salat Dhuha. Saya berdoa semoga diberi kemudian dalam menyelesaikan urusan yang mungkin sepele tapi bikin tak tenang ini. Kalau memang harus membayar ya bayar dah, daripada nanti ada BI Checking, kan repot nantinya.
Seusai salat saya melanjutkan perjalanan dan berhenti di SPBU Jebres untuk mengambil uang di ATM BCA. Saya ambil Rp500.000, siap2 Rp470.000 buat nutup tagihan itu.
Setelah muter2 mencari bank dimaksud akhirnya saya menemukannya di sisi selatan jalan raya Solo-Palur. Letaknya yang tak jauh dari proyek fly over membuat kantor bank tidak terlihat dari seberang jalan.
Saat masuk ke lobi bank tiba-tiba HP saya berbunyi. Ternyata dari sang DC. "Pak Abu, mohon maaf, saya minta tidak usah ke bank saja Pak, ternyata Bapak sudah tidak ada tagihan. Jadi langsung pulang saja," ujarnya nerocos tanpa bisa saya sela.
Di saat bersamaan dari lantai atas terlihat turun seorang petugas bagian kartu kredit. Di tangan pria yang belakangan saya tahu bernama Eko itu terlihat selembar kertas. Dengan sangat sopan ia mempersilakan duduk. "Maaf Pak, njenengan Pak Abu Nadhif ya? Maaf Pak, ada kesalahan dalam sistem kami. Penutupan kartu Bapak pada 2011 silam tidak masuk ke sistem karena petugas kami lalai memasukkan data Bapak. Jadi tagihan pemeliharaan kartu jalan terus. Tapi intinya tagihan sudah kami hapus Pak, jadi kartu Bapak benar-benar telah ditutup. Kalau suatu saat ada masalah silakan hubungi saya Pak," ujar Eko sembari memberi nomor teleponnya. Eko juga memberikan surat berisi keterangan tidak ada tagihan.
Saya melongo. Batin saya, cepat benar Allah mengabulkan do'a saya. Ya Allah, matur nuwun tidak jadi kehilangan uang Rp470.000. Insyaallah uang akan dipergunakan untuk keperluan lain. Bismillah...
Inilah penampakan surat bebas tagihan dari Bank Mega:



Semoga cerita ini bermanfaat. Amin

Senin, 03 Juni 2013

YA RABB SEDIHNYA HATIKU...

Hari belum beranjak siang, kesedihan sudah melanda. Betapa tidak, Wagimin (kenari jantanku) harus mati di tanganku sendiri. Niat baik memang terbukti tidak selamanya berakhir baik. Maksud hati memotong kuku Wagimin yang sudah panjang2, malah nyawanya terenggut. Gara-garanya, aku memegang Wagimin terlalu kencang sehingga ia kesulitan bernapas hingga tewas...duuuuuh..
"Pak Abu tangannya terlalu kencang, kan biasa ngangkat barbel," Pak Biyan, teman fitnesku mencoba memberi analisis.
Wah, benar juga ya. Apa karena sebulan terakhir aku rutin fitnes jadi cengkeraman tanganku lebih kuat dari biasanya. Padahal, memotong kuku kenari sudah menjadi rutinitasku sejak beberapa bulan terakhir dan tidak pernah ada masalah.
Heeemm..hanya penyesalan yang kini mendera. Bukan sekadar menjadi "pembunuh" Wagimin, tapi juga karena harga Wagimin yang lumayan tinggi (Rp800.000). Karena sedang butuh persiapan untuk sekolah anak-anak, terpaksa aku membarterkan salah satu kenari betina untuk ditukar dengan "Wagimin" baru. Ndakpapa, tombok Rp100.000, daripada tidak punya pejantan. Ya Allah, semoga usaha ternak kenari ini segera memberi hasil untuk tambahan tabungan anak-anak....amiiiin. Selamat tinggal Wagimin, semoga Allah mengampuniku untuk kelalaian ini....



Senin, 22 April 2013

KORAN O JAWARA IPMA (SILVER WINNER)

di usia yang ketiga, Koran O sudah dua kali mendapat penghargaan sebagai yang terbaik di IPMA...2010 dan 2012...inilah buktinya.